Advertisement

Advertisement
Sosok

Guru Ini Ngajar Pakai Wayang & Lagu Noah

Creavida Lentera Inspirasi
Selasa, 23 Februari 2016, 00.39 WAT
Last Updated 2016-02-22T17:39:53Z
Advertisement

Seorang guru SMK Negri 1 Sayung Demak, Jawa Tengah melakukan sistem pembelajaran unik dengan menggunakan alat peraga wayang. Cara itu dinilai efektif untuk mengajarkan materi pelajaran, karena tidak monoton sekaligus menghibur siswa.

Guru bernama Iswara Wisesa itu menyampaikan, siswa kerap bosan dan jenuh jika sistem pembelajaran berjalan monoton. Apalagi, mata pelajaran Bahasa Jawa yang dia ampu dianggap kuno sehingga tak banyak diminati siswa.

"Makanya untuk mengajar seperti ini, saya harus kreatif menciptakan hal-hal baru. Misalnya saat mengajar materi tentang Asmarandhana ini, saya juga membawa gitar untuk bernyanyi lagu Separuh Aku yang ditenarkan grup band Noah,” kata Iswara, baru-baru ini.

Perkataannya terbukti. Dia berhasil menyedot perhatian sekira 20 puluh siswa di kelas. Mereka mendengarkan sambil ikut bernyanyi kecil mengikuti lirik lagu yang diiringi musik gitar akustik. Namun, di tengah lagu mendadak Iswara mengubah syair lagu dengan Bahasa Jawa yang berupa Tembang Asmarandha.

"Ini yang kadang siswa tidak bisa mengikuti lagu Bahasa Jawa ini. Tapi setidaknya, mereka sudah memperhatikan terlebih dahulu lewat lagunya Noah. Biar siswa tahu lalu bisa nembang dan mengerti kandungan Tembang Asmarandhana," lugasnya.

Alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut juga mengurai Tembang Asmarandhana itu melalui alat peraga wayang kulit. Setidaknya tiga karakter wayang yakni Semarang, Gareng, dan Bagong, dia gunakan untuk mengantarkan materi pelajaran itu.

"Dibuat interaktif, jadi wayang-wayang ini juga berdialog dengan siswa. Agar semakin menarik perhatian mereka. Materi Asmarandhana ini tentang percintaan yang mestinya menarik bagi anak-anak seusia mereka, tapi kalau mereka tidak tahu (Asmarandhana) ya enggak bakal tertarik," ungkapnya.

Sebagaimana dalang, Iswara fasih memainkan peran tokoh-tokoh Punakawan itu di depan kelas. Apalagi, pertunjukan wayang itu disertai banyolan-banyolan segar hingga membuat pelajar terpingkal-pingkal.

"Seneng bila diajar Pak Is, tidak monoton. Kreatif, mengajar di kelas sambil membawa wayang. Tapi tak sekadar pertunjukan wayang, kami juga diberi pemahaman tentang materi pelajaran, awalnya enggak menyadarinya. Tapi setelah diajarkan baru mengerti keterkaitan antara lagu tadi, dengan materi pelajaran di buku," tutur seorang siswa bernama Uswatun Hasanah.

Metode inovatif yang diterapkan sejak 2013 itu bukan tanpa hambatan. Bahkan tidak sedikit guru yang mengkritiknya karena suasana kelas menjadi gaduh, hingga dianggap menggangu kegiatan belajar mengajar di kelas lain.

"Ya, masih anggapan dari sesama guru yang menilai kelas menjadi ramai, gaduh. Apalagi di sekolah ini kan ruang kelas berdempetan. Tapi sebenarnya bukan gaduh sembarangan yang saya maksud. Gaduhnya itu karena siswa interaktif, aktif dalam pembelajaran," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMKN 1 Sayung, Miftahul Ulum, menyatakan, inovasi pembelajaran sangat dibutuhkan untuk menunjang penerapan Kurikulum 2013. Menurutnya, setiap guru bebas menentukan metode pembelajaran yang dinilai paling efektif, meskipun mendapat tanggapan miring dari rekan sejawatnya.

"Setiap guru berhak bebas menentukan cara mengajar yang paling baik dan efektif. Kami sangat mendukung inovasi pembelajaran seperti itu. Malah, ke depan setiap guru diminta menemukan inovasi baru agar siswa tak cepat bosan. Bila perlu, pembelajaran bisa dilakukan di luar kelas agar siswa dapat melakukan pengamatan secara langsung dan tak jenuh duduk di bangku kelas," tandasnya.

[Okezone.com]

TrendingMore